Orang kebanyakan akan berkata, betapa menyenangkan menjadi orang penting. Tapi orang cerdas akan berpikir, betapa pentingnya menjadi orang menyenangkan. Pernahkah kita berpikir keras tentang apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan orang lain, membuatnya tersenyum bahagia dan merasa dihargai.
Jika belum, tampaknya kita perlu belajar dari kisah kehidupan berikut ini.
Suatu hari, seorang laki-laki pergi ke kantor pos yang padat dan sibuk. Suasananya hiruk pikuk, antrean panjang dan setiap oran ingin cepat dilayani. Di antara tumpukan kartu pos dan surat yang menggunung, ia melihat seorang pegawai laki-laki paruh baya tengah menstempel dan mensortir surat-surat.
Meski wajahnya terlihat letih, tangannya tetap bergerak lincah melakukan tugas. Tentu ia telah bekerja keras di sini selama bertahun-tahun untuk melayani masyarakat, pikir laki-laki tadi. Diam-diam ia terus saja memperhatikan pegawai pos itu. Ada semacam dorongan dalam hatinya untuk membuat sang pegawai sedikit merasa bahagia dan tersenyum di hari yang melelahkan ini. Ia mulai berpikir apa yang akan dilakukannya saat tiba gilirannya mendapatkan pelayanan.
Sementara menunggu giliran, ia terus saja berpikir keras. Aha, akhirnya ia memang berhasil membuat pegawai pos itu mengangkat wajah, tersenyum senang, bahkan tertawa dan berceloteh ringan. Tahukah Anda apa yang dilakukannya? Sederhana saja. Saat tiba gilirannya, ia tersenyum tulus pada sang pegawai dan berkata: “Saya sedang berpikir, berapa lama waktu yang bapak perlukan untuk membuat jambul sebagus itu?”
Laki-laki itu tidak sedang mengumbar omongan kosong atau pujian tolol. Rambut pegawai pos itu memang berjambul bagus, tapi tidak seorang pun peduli selama ini. Dan dia mempedulikannya dengan tulus, tanpa pamrih dan tidak dibuat-buat. Ia hanya ingin membuat orang lain merasa bahagia dan dihargai.
Membaca kisah tersebut, kita teringat sabda Rasulullah tentang mutiara yang hilang; setiap hikmah dan kebajikan yang kita temui pada dasarnya itu adalah milik umat Islam yang hilang. Di tengah situasi masyarakat yang dipenuhi konflik dan pertikaian, cenderung makin individualis dan EGP dengan kesulitan orang lain, sikap peduli, memberi kehangatan dan kebahagiaan pada orang sesama, meski dengan hal sepele, seolah menjadi barang langka.
Di saat banyak orang berlomba-lomba mencari kesenangan pribadi, ajakan untuk memikirkan bagaimana menjadi pribadi yang menyenangkan mudah-mudahan menjadi penawar dahaga. Ya, sudah cukup banyak manusia yang menampakkan sifat egois, mau menang sendiri, tinggi hati, melecehkan orang lain, pemberang, dan sebagainya.
Kini saatnya kita mencari dan merebut predikat pribadi yang menyenangkan sebagai mutiara yang hilang itu. Bagaimana dengan pendapat Anda?
